Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2026

LONTONG BU DILA : Menjaga Tradisi Sejak 1998

Gambar
  LONTONG BU DILA Menjadi Bagian dari Kuliner Lokal Di Desa Sepande, sebuah usaha rumahan telah mempertahankan produksinya selama lebih dari dua dekade. Lontong Bu Dila  mulai dirintis pada tahun 1998  dan hingga kini tetap aktif memproduksi lontong setiap hari. Selama perjalanan tersebut, usaha ini tumbuh bersama kebutuhan masyarakat. Dari pemasaran melalui pasar tradisional dan rekomendasi pelanggan, Lontong Bu Dila kemudian menjadi bagian dari kebutuhan berbagai usaha kuliner di sekitarnya, termasuk pedagang bakso, sate, serta pesanan catering. Produksi dilakukan setiap hari dengan kebutuhan sekitar 12 kilogram beras untuk menghasilkan kurang lebih 300 buah lontong . Prosesnya membutuhkan waktu dan ketelitian, mulai dari persiapan bahan, pengolahan, hingga perebusan selama beberapa jam untuk memperoleh lontong dengan tekstur yang sesuai. Konsistensi produksi menjadi bagian penting dari usaha yang telah berjalan sejak 1999 ini. Setiap lontong dipersiapkan untuk memenuh...

MAYANG TELUR ASIN Produk lokal yang lahir dari kebersamaan

Gambar
 MAYANG TELUR ASIN Rasa yang Tumbuh dari Tangan-Tangan Perempuan Sepande. Berawal dari aktivitas ibu-ibu PKK RW 8 Desa Sepande, usaha ini hadir sebagai bagian dari potensi pangan lokal yang terus dikembangkan oleh masyarakat. Telur asin tidak hanya menjadi produk olahan pangan, tetapi juga menjadi ruang bagi perempuan untuk berkarya, bekerja bersama, dan membangun aktivitas ekonomi di lingkungan mereka sendiri. Di balik setiap butir telur asin, terdapat proses yang membutuhkan ketelitian dan konsistensi. Dan di balik proses tersebut, ada cerita tentang perempuan-perempuan Sepande yang memilih untuk terus bergerak.  Produk yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik dan dikenal sebagai salah satu olahan pangan yang memiliki nilai gizi. Namun, kekuatan Mayang Telur Asin tidak hanya terletak pada produknya. Usaha ini juga menunjukkan bagaimana kegiatan ekonomi dapat tumbuh melalui kolaborasi masyarakat. Para ibu yang tergabung di dalamnya tidak hanya menjalankan aktivitas produks...

Budidaya Lele Pokdakan: Tumbuh Menjadi Usaha Bersama

Gambar
  POKDAKAN LELE SEPANDE Di tengah kehidupan masyarakat Desa Sepande, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, terdapat sebuah usaha yang tumbuh dari aktivitas sederhana: budidaya ikan lele.  POKDAKAN Mekar Asri merupakan kelompok pembudidaya ikan yang dikelola oleh masyarakat setempat dengan Bapak Arief Roesdijanto sebagai salah satu pengelolanya. Berada di lingkungan permukiman, kegiatan budidaya lele menjadi salah satu potensi ekonomi yang terus dikembangkan oleh masyarakat. Bagi Mekar Asri, kolam bukan hanya tempat memelihara ikan. Di dalamnya terdapat proses, pengetahuan, dan kerja keras yang dilakukan secara rutin untuk menghasilkan lele yang berkualitas sekaligus menjaga keberlangsungan usaha.  Usaha ini telah menghasilkan lele dengan kualitas yang baik dan mendapatkan pembinaan secara berkala dari Dinas Perikanan. Monitoring dilakukan sekitar satu hingga dua bulan sekali sebagai bentuk pendampingan terhadap kegiatan budidaya. Salah satu hal yang menjadi kekuatan Mekar ...

Tahu Pak Farid : Cita Rasa Tahu Berkualitas Dari Sepande

Gambar
TENTANG TAHU PAK FARID Produk Tahu dari Desa Sepande, Sidoarjo Tahu merupakan salah satu produk pangan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Di balik produk yang sederhana tersebut, terdapat rangkaian proses pengolahan yang membutuhkan ketelitian dan konsistensi. Tahu Pak Farid menjalankan proses produksi secara mandiri, mulai dari pengolahan kedelai hingga menghasilkan tahu yang siap dipasarkan. Pemilihan bahan baku menjadi salah satu perhatian utama karena kualitas kedelai berpengaruh terhadap karakteristik produk yang dihasilkan. Tahu Pak Farid merupakan usaha pengolahan pangan yang berlokasi di Desa Sepande, Sidoarjo. Usaha ini memproduksi tahu secara rutin setiap hari dan memasarkannya ke berbagai wilayah di Sidoarjo dan Surabaya. Dengan kapasitas pengolahan  “Produksi dimulai pagi sekitar pukul enam. Setiap hari kami mengolah sekitar dua sampai tiga kuintal kedelai.” — Pak Farid, pemilik usaha.  Tahu Pak Farid terus menjaga konsistensi proses prod...